Nasehat dari Ibu

Kelak pada siapapun dan pada apapun engkau ditambatkan, belajarlah mencintai dengan pengabdian-

Kepadamu amanah-amanah langit yang kelak bertumbuh dalam bilik rahimku.
Ketika kelak engkau dititipkan dalam bilik rahimku, maka ketika itu aku menjadi seorang perempuan berahim hangat, perempuan yang dipinjami kehangatan surga untuk menumbuhkan daging-daging kaku hingga Allah kehendakkan ruh menggeliatkannya.
”Kelak dihidupkanlah daging kaku itu!”
Banyak cerita terserak tentang kelahiran, tentang kesakitan, tentang pengabdian, tentang perhitungan arah nasib sang jabang bayi. Begitupun tentangmu, Nak…
Di masa ke empat bulan engkau di dalam bilik rahimku, konon engkau mengalami masa persidangan Tuhan terhadap takdir atasmu. Di sana engkau membuat rupa-rupa kesepakatan tentang apa-apa yang menyangkut temali jodohmu, rejeki yang bertuaian, juga lepas nafas saat di penghujung kehidupanmu. Tetapi, Nak… Bukankah takdir selalu terkunci dari terabas keingintahuan manusia? Bukankah manusia adalah makhluk yang tak melulu berhak tahu atas segala sesuatu? Meskipun begitu, aku tak pernah meredupkan harap jika generasi yang aku lahirkan kelak dari rahimku adalah mereka yang tercatat dalam rangkaian tetakdir yang indah.
Engkau tahu, Nak? Ketika tangis bayi pecah, segala penderitaan seorang ibu yang selama sembilan bulan berjuang menumbuhkan janinnya dengan penuh kasih, menjaganya hingga maujud menjadi sesosok bayi, juga segala penderitaannya ketika berjuang melahirkan, mendadak raib, berganti dengan kebahagiaan yang tersemai.
Kala tubuh yang mendadak perkasa itu tiba-tiba bertenaga luruh, tubuh mereka gemetar, sementara tangis bayi kian lekat, perlahan sang ayah menyambutnya dalam dekapan yang lekat, mengumandangkan adzan terkhusyu di dekat telinga sang bayi, sejak saat itu, perempuan itu akan tersadar, betapa tanggung jawabnya masih sangat panjang menjadi seorang ibu. Dan, ingat Nak! Jangan kau anggap bahwa ini adalah tanggung jawab yang akan membuahkan keluh sepanjang hayat mereka! Kelak Kau akan mengerti bahwa mereka adalah perempuan-perempuan berhati ridha.
Di mula engkau mencicipi dunia, tahukah kau, Nak? Sesungguhnya engkau memang jauh-jauh sudah seharusnya tahu, kau akan menapaki level demi level persoalan hidup, berjejalan dengan rupa-rupa sifat dan sikap manusia, rupa-rupa orientasi capaian hidup. Jangan heran ketika engkau melihat beragam ketaksesuaian. Jika tak kau ketahui arahmu secara pasti, maka bersedihlah kau menjadi manusia yang terombang-ambing dalam ketaktentuan arah nafsu-nafsu kehidupan, dan jika tak kau punya jua cahaya arah, maka engkaupun sama sulitnya, karena engkau akan terkungkung dalam kegelapan tanpa alternatif.
Oleh karena itu, Nak! Sudah menjadi amanahku terhadapmu ketika engkau terlahir kelak. Kukenalkan engkau sebagai siapa di dunia ini. Engkau anakku yang bukan milikku. Maka mengabdilah pada Allah Azza wa Jalla Tuhan yang karena Rahmaan dan RahiimNya menghendaki terciptanya engkau. Pelajari betul tentang konsep kerja kekhalifahan, Nak! Bukankah untuk itu engkau dicipta dan bukan sebagai generasi yang membuat bumi fana? Sebagai arahan, pelajari dan amalkan al-Qur’an sebagai kitab yang diturunkan untuk menjadi pedoman. Percayalah nak, bersamanya engkau jauh dari ketersesatan dan engkau diterangkan dari kegelapan. Cintailah Rasul-Nya dan jadikanlah uswah sepanjang kehidupanmu, dengan begitu maka akan terpujilah akhlakmu.
Tahukah kau, Nak? Tak pernah ada seorangpun ibu yang merasa menyesal telah melahirkan anak-anaknya, sekalipun pada akhirnya kelak, sang anak lebih banyak mengingkari setiap jerih sang ibu yang telah membuatnya menjadi seorang besar di dalam kehidupan. Maka doakanlah setiap ibu dan cintailah selalu.
Ketika engkau hanya mengulur sebuah lorong cinta untuk setiap kebaikan ibu dalam menyayangimu, maka jauh sebelum itu ibu telah melapangkan taman-taman cinta untukmu, dan itu tanpa syarat.
Engkau tahu? Kelak ketika engkau lahir dari rahimku, dunia ini seperti akan menelanmu dalam keliarannya, tetapi tetaplah engkau menjadi anak berhati hangat, sebab dengan begitu dunia akan melunak padamu. Jadilah anak yang berlisan cinta sebab dengan begitu orang-orang akan mendoakanmu, jadilah anak yang berhati doa sebab dengan begitu hatimu akan selalu menyala, dan dengan itu maka genggamlah dunia dengan tanganmu, dan jagalah akhirat dalam hatimu.
Jika engkau sedang bersedih, engkau harus ingat Nak, sebelum orang lain, maka aku lah yang lebih dahulu menghapus gerimis di bening matamu, sebelum orang lain, akulah yang akan menawar sepat hatimu.
Aku sebagai ibumu, tak akan pernah jemu mendoakamu, menghapus gerimis di bening matamu.
Jadilah engkau generasi yang bertangan dunia dan berhati akhirat.
Jangan mudah melempar tuba sekalipun orang-orang yang lebih dahulu aniaya.
Menjadilah uswah dan orang mengikuti setiap kebaikanmu. Jangan mudah tersuruk dalam sanjungan yang menipu.
Jika engkau adalah seorang lelaki, menjadilah seorang laki-laki terhormat yang tak mudah tunduk pada syahwat-syahwat dunia. Engkaupun kelak menjadi seorang ayah, kuatkan dan arahkan istrimu yang kelak menjadi ibu bagi anak-anakmu.
Jika engkau adalah seorang perempuan, menjadilah perempuan yang mengabdi dengan cintamu. Hangatkan rahimmu. Doakan anak-anakmu. Kenalkan mereka dengan dunia, tetapi buat mereka jatuh cinta pada surga.
Tentang cinta… Anakku… Kelak pada siapapun dan pada apapun engkau ditambatkan, belajarlah mencintai dengan pengabdian.

Maukah kau berjanji sesuatu pada ibumu? Jika aku tua nanti, jangan jadikan aku seorang perempuan berahim dingin, yang engkau sisihkan setelah engkau mendapat kehangatan dari keluarga barumu yang kau bangun. Maukah kau berjanji itu? Anakku sayang… Tak usah kau merasa terpaksa, sebab aku tak akan memaksa. Dan, semoga engkau tahu nak, bahwa ibu, siapapun mereka, adalah perempuan-perempuan tanpa pamrih.

”Duhai Robbi, anugerahkanlah kepadaku anak yang termasuk golongan orang-orang shalih.” (QS. Ash-Shaffat [37]: 100)

*Dalam rangka mengikuti lomba Surat untukmu, Nak

http://azkamadihah.wordpress.com/2010/lomba-surat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s