Seharusnya Akhwat itu yang Seperti Apa?

Suatu hari saya menemukan teman saya dalam keadaan wajah yang bermuram durja. Aneh sekali, padahal hari ini begitu cerah, burung-burung bernyanyi riang, dan serangga berbunyi senang. Setahu saya, teman saya itu seseorang yang sangat periang, dia selalu dengan murah hati membagikan senyumannya yang indah dan tulus ke semua orang, sampai yang tidak dia kenal sekalipun. Akan tetapi hari ini, di atas kursinya, ia duduk meringkuk, dengan wajah yang hampir menangis. Lantas kutanyakan penyebab apa yang membuat ia tidak biasa seperti hari biasanya.

Saya     : Hai Not, kamu kenapa? Kok gak biasanya kamu gini?

Dia       : oh, Ta. Saya biasa-biasa aja si…

Saya     : Ah boong, dasar kamu ini. Ayo ngaku lagi mikir apa?

Dia        : saya  emang gak bisa berkamuflase ke ota ya… heheh.

Iya ta,  saya suka iri sama akhwat yang bener-bener akhwat. Saya ngiri sama orang, terutama wanita yang semua orang suka sama dia, suka ngiri sama orang yang lembut, gaya dan sikapnya tenang, dan kedewasaan. Sedangkan, saya? Saya jauh banget dari itu. Saya cenderung berisik, gak bisa diem, dan cenderung kekanakan. Saya pingin banget jadi akhwat sejati, dan semua orang suka sama saya.

Saya     : Eh, bentar-bentar. Yang kamu definisikan sebagai akhwat yang sejati itu yang kayak gimana not?

Dia       : ya, seperti yang saya bilang barusan, lembut, tenang, kedewasaan. Gitu lah pokoknya. Apalagi orang-orang    yang lagi saya iriin itu pinter agamanya. Udahlah, kebanting banget ta, Huhuhu… jadi sedih sama diri sendiri…(>_<) Saya belum bisa jadi akhwat yang baik….

————————————————————————————————————————————————

Hmm…. Kita akan coba sedikit bahas mengenai topik per-akhwatan ini. Akhwat sendiri, adalah kata yang diambil dari bahasa Arab, yang artinya saudara wanita. Yang kemudian di Indonesia, terutama di kalangan pelajar dan pengurus rohis-rohis setempat makna ini mengalami peyorasi dan maknanya tersempitkan menjadi ”wanita-wanita yang lembut banget, alim banget, kerudung gedhe, dsb-dsb”. Mengenai makna yang telah tersempitkan ini, pada tiap-tiap kalangan beda-beda pendapatnya. (hal yang sama terjadi juga pada makna dari kata ikhwan, red)

Ternyata penyempitan makna ini membawa banyak sekali akibat yang tiada di sangka-sangka. Dan mayoritas dampak yang ditimbulkan adalah dampak negatif, tapi tentu ada sisi positifnya juga dibalik semua dampak yang kurang baik itu. Tenyata peristiwa penyempitan makna ini membawa efek sifat minder dalam diri seorang wanita yang memiliki sifat yang tidak sama seperti apa yang dipersepsikan oleh alam bawah sadarnya (eh gak ding, maksudnya sadar) bahwa seorang akhwat harus gini-gini-gini. Dan efek ini pernah juga dialami oleh penulis (saya) sendiri.  Hmm,  misalnya seperti apa yang dialami oleh teman saya di percakapan barusan. Dia minder gara-gara dia orangnya rame, gak bisa diem, ceria, sehingga cenderung dianggap kekanakan. Jauh berbeda dari apa yang ia persepsikan tentang akhwat itu sendiri yang kalem, tenang, lembuuuut, dan dewasa (untuk point yang satu ini juga kadang terjadi penyempitan kalau dewasa ya sikapnya serius, tenang, bersahaja dan selalu jaim lah istilahnya).

Semua itu, penyempitan makna yang terjadi, menurut diri saya pribadi adalah sesuatu yang keliru. Ya, cukup  artikan saja secara harfiah, kalo akhwat itu saudara perempuan, yang sejalan dalam iman kepada Allah, dan memegang syariat perintah dan larangan Allah. Ingat, bahwa sesungguhnya Allah-lah yang menciptakan diri dari tiap-tiap pribadi dengan masing-masing keistimewaan tersendiri, dengan setiap keunikan masing-masing. Bayangin aja kalo semua akhwat sikapnya sama semua, kalem, kemayu, tenang, musti jilbabnya gedhe, dsb-dsb. Wah dunia jadi akan membosankan. Bayangkan semua orang sifatnya sama! Saya jadi teringat salah satu kabaret yang pernah teman-teman KISR (Keluarga Islam Seni Rupa/FSRD) pernah mainkan untuk pembukaan OASIS 2008, judulnya ”Islam Itu Bukan Hitam Atau Putih, Islam Itu Warna Warni”. Kamu tetap dibilang akhwa kokt walau kamu itu gak bisa diem, banyak cerita (proporsional), ceria, suka gerak, jilbab ga gedhe-gedhe amat (tapi tetap menutup dada dan tidak membentuk tubuh, sesuai syariat lah pokoke), dan kamu berada dalam satu keimanan pada Allah. Kamu tidak usah manjadi orang lain, karena Allah akan lebih bangga sama kita apabila kita menjadi just the way we are. Itu nandain kalau kita itu bersyukur atas segala karunia yang udah diberikan sama Allah, kepada kita. Sebagai  pemberi motivasi tambahan, saya juga ingin mengutip kata-kata dari Salim A Fillah di buku ABCP, beliau berkata…jreng-jreng-jreng…. ”Ikhwan kan seleranya juga beda-beda” hehehe… jadi jangan takut untuk jadi diri sendiri.

Ar Ruum : 30
ar ruum 30

Sisi positifnya, kita para Akhwat dengan adanya penyempitan makna ini menjadi lebih termotifasi untuk menjadi lebih baik. Seperti teman saya di percakapan barusan, karena adanya kekurangnyamanan itu, dia berusaha mengubah dirinya untuk menjadi lebih baik, dan lebih baik lagi. Dan adanya rasa iri kepada sifat baik yang dimiliki saudaranya adalah sesuatu yang diperbolehkan.

Perlunya suatu target pencapaian untuk lebih baik amatlah penting. Karena kita sebagai seorang mukmin harusnya mempunyai slogan ”Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin”.

Misalnya kalau dari saya pribadi punya targetan dari perbaikan dalam perkataan. Dan ini diurut secara sistematis. Yaitu:

Fase 1àPerkataan yang benar (Qaulan Sadiidan)

Fase 2àPerkataan yang berbobot (Qaulan Tsaqilan), kamu gak sia2 ngomong

Fase 3àPerkataan yang konsisten (Qaulan Tsabit)

Fase 4àPerkataan yang sampai dan membekas (Qaulan Baliigha)

Fase 5àPerkataan baik yang dikenal (Qaulan Ma’rufaan)

Fase 6àPerkataan mulia (Qaulan Kariiman)

Fase 7àPerkataan lembut (Qaulan Layyian)

Fase 8àPerkataan yang mudah dan pantas (Qaulan Masyuuran)

Dan itu diaplikasikan sebagai suatu bentuk keseluruhan, dengan kata lain ketika kita sudah mencapai salah satunya, maka fase yang lain juga akan mengikut satu-demi satu.

Itu baru dari segi dalam perbaikan pribadi dari sisi perkataan lho ya….

Teruntuk teman baik saya Not, saya cuma bisa bilang, saya terharu kamu ada rasa iri akan hal yang kamu anggap seharusnya seorang akhwat ‘seperti’, itu berarti kamu dalam fase ingin dan siap untuk  memperbaiki diri, dan mulailah dari hal yang kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulailah dari saat ini. Akan tetapi kamu juga harus bersyukur tentang apa yang Allah sudah karuniakan kepadamu, karena itu titik keistimewaan yang Allah berikan kepadamu. Ubah untuk menjadi seorang yang lebih baik, akan tetapi jangan hapus niche itu sehingga dirimu berubah menjadi orang lain. Aku bangga dengan kamu yang adalah kamu, saya suka kok dengan kamu yang adalah kamu. Seperti kata  Joe Mc Intyre, dalam lagunya Stay The Same.

Don’t you ever wish, you were someone else

You were meant to be the way you are exactly

Don’t you ever say you don’t like the way you are

When you learn to love yourself, you better of by far

And I hope you always stay the same

Coz there is nothing about you I would change

I thing that you could be

What ever you wanted to be

If you could realize

All the dream you have inside

Don’t be afraid

If you got something to say

Just open up you heart and let it show you the way

 

so, be yourself pall….. =D

 

share from ukhty okta😀

thanks yuaaaaaaaaaa

*jadi mikir…..kapan jadi akhwat sejati yaaa???

doakan saja secepatnya..

ALLah dekap saya selalu dalam kasih sayang-MU

😀

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s