menutup diri, membuka hati..

Lagi, Siang menjelang sore ini otakku kembali dipenuhi aliran kata yang hendak tumpah dalam kertas maya. Bercerita tentang sesosok muslimah dalam pencariannya.

Kurang lebih tiga tahun lalu seorang gadis mulai memantapkan diri untuk menutup aurat sesuai dengan nadzarnya.

Berat memang, awalnya.

Ia merasa berat karena  harus meninggalkan pakaian-pakaian “Pendek” yang biasa ia pakai dalam kesehariannya.

Ia merasa berat karena rambut yang biasa dihias dengan pita-pita cantik nan lucu harus ditutupi dengan selembar kain yang menutupi helaian rambutnya.

Ia merasa berat harus berpenampilan layaknya seorang muslimah yang berjilbab yang biasanya sudah paham masalah agamanya.

Ia merasa berat karena takut teman-temannya menjauhi dirinya.

hingga akhirnya, ia mulai “terpaksa” untuk menjalankan nadzarnya itu.

Hari demi hari terasa sama saja dengan hari-hari dimana ia belum berhijab.

Entah, apa yang membuatnya merasa tidak nyaman dengan pergaulannya yang masih “tak terbatas” itu.

Kegelisahan nya membuat ia mencari, apa sebenaranya yang hendak dicapai dalam hidup ini?

Hingga suatu hari, ia bertemu seorang sahabat, sholehah, yang mendampingi dirinya dalam pencarian itu.

Saat pencariannya ia mulai gemar membaca buku, buku pertamanya “Jilbab itu keren”.

Seketika saat mengkhatamkan buku itu, ia mulai mengetahui bagaimana syariat islam mengatur bagaimana seseorang harus berhijab yang sesuai syariat.

Perlahan mulailah ia merubah penampilannya..

Memakai jilbab yang tidak tipis, tidak ketat, menutupi dada, bahkan ia mencoba menggunakan rok dan kaos kaki untuk menutupi aurotnya..

Ia merasa nyaman dengan semua itu, mulailah babak kedua perjalanan pencarian jati dirinya itu..

Buku kedua yang menggetarkan hatinya adalah “Ayat-Ayat Cinta” sebuah karya yang memperlihatkan bagaimana keidahan islam, bagaimana Islam mengajarkan interaksi antara laki-laki dan wanita, bagaimana seharusnya pernikahan dalam islam. Dan keingintahuannya semakin menggejolak, ia mulai melahap buku-buku yang menambah pengetahuannya, ia mulai aktif mengikuti kajian di lingkungannya, hingga akhirnya hidayah itu diterimanya.

Ia kembali teringat saat ia berat meninggalkan pakaian-pakaian “pendek” serta berat untuk menutupi aurotnya.

Sesekali ia tersenyum, Sungguh indah celupan dari Alloh yang kembali mewarnai hari-hari barunya.

“Siapa yang lebih baik sibgah(celupan)nya daripada Alloh”?

Sebuah tulisan dari dinding maya terpampang di halaman rumahnya,

 

dear muslimah,…

 

Adakah seorang wanita yang kehilangan kecantikannya hanya karna ia berhijab???

sesungguhnya setiap jengkal dari kita adalah aurat yang memunculkan angan yang berbeda bagi tiap yang memandang.

 

Patut disyukuri bagi seorang akhwat yg dengan ikhlas menutupi dirinya, menjaga diri dan kesuciannya hanya untuk suami mereka karena Allah.

 

Ingatkah kita pada wanita2 suci pendahulu kita?

Khadijah, Maryam, Aisyah,Fatimah dan lainnya..

mereka menjadi wanita mulia karena menjaga diri dg hijab, menjaga hati dg akhlak, iman dan taqwa.

Maka wajar jika surga Allah adalah hadiah bagi mereka.

 

Ketika ditanya, apakah kita mau masuk surga?

Pasti tak ada yang menolaknya.

Tapi jika kita mau ke surga, coba renungkan…

sudahkan kita spt khadijah dan wanita suci lainnya yg slalu berbuat untuk izzah(kemualiaan) kita???

 

Pesona Cleopatra bisa pudar…

tapi..

Pesona ahlul hijab, tidak akan luntur sepanjang zaman

sebab ia selalu memancarkan aura cahaya kesucian yang tak kan pernah padam…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s