Penggolongan Stres Mahasiswa Tingkat Akhir

Kalimat pertanyaan yang paling ditakuti oleh hampir semua mahasiswa tingkat akhir mungkin sama. Yakni “kapan wisuda?”. Sederet nasihat datang bertubi-tubi dari segala arah bila sang mahasiswa tersebut “tidak tepat waktu” dalam penyelesaian tugas akhir tersebut.

“Semangat…semangat…semangat…”

“Man Jadda wa jada”

“Allah lebih melihat proses, bukan hasil”

“Fokuslah pada jalan keluarnya, bukan pada masalahnya”

“kamu adalah apa yang kamu pikirkan”

“bertaqwalah pada Allah, dan Allah akan memberi jalan keluar pada orang yang bertaqwa”

“ini bukan masalah bisa atau tidak bisa, melainkan mau atau tidak mau”

Kalimat-kalimat motivasi begitu dibutuhkan pada fase-fase ini. Sebab, mahasiswa tingkat akhir tersebut memang rentan terhadap stress. Hal ini berhubungan dengan tingkat kesulitan pengerjaan skripsinya. Beruntung bila judul yang dipilih dan isi skripsinya mudah didapat dan dosen pembimbingnya sangat mendukung dan mudah ditemui. Bila tidak, sang mahasiswa memang harus kerja ekstra untuk keluar dari dunia kampus dan mendapatkan gelar sarjananya.

Stress yang dihadapi mahasiswa tingkat akhir bervariasi. Bisa digolongkan ke dalam 3 stadium: rendah, sedang, dan berat. Stadium rendah cirri-cirinya: kelelahan, mata cekung, nafsu makan menurun, tak bergairah dan sulit tidur. Stadium sedang cirri-cirinya: sentimentil, mudah menangis karena masalah sepele, mudah terkena penyakit ringan (seperti, batuk, pilek,demam), emosi labil, cepat lelah, frekuensi ibadah (meningkat/menurun) drastis. Stadium berat cirri-cirinya: cepat marah, keinginan menyelesaikan skripsi melemah, ingin mengakhiri hidup, lebih senang menghabiskan waktu sendiri, suka berbicara sendiri, menyalahkan diri sendiri, sulit konsentrasi, sangat jarang ke kampus, tekanan darah meningkat, tekanan intracranial meningkat, tekanan batin sangat meningkat…(gakjelas.com)

Stadium rendah dan sedang masih bisa diatasi dengan istirahat yang cukup, makan dan minum bergizi, menonton film motivasi, meminta nasihat dari yang sudah berhasil melewati fase ini, memperbanyak do’a dan zikir, meminta do’a dari orang lain, serta mengerjakan skripsi tersebut dengan sabar dan tawakal tentunya. Namun, pada stadium berat, agak lebih sulit diatasi, tidak saja imunitas yang menurun, tetapi juga diikuti dengan alam bawah sadarnya yang tak terkendali. Obat-obatan semisal diazepam kadang diperlukan. Dan pada stadium ini, hanya kepada Allah semua harapan bergantung. Sebab, sebanyak apapun intervensi yang digunakan manusia untuk menyembuhkannya, tak kan mampu menyembuhkan, bila Allah tak mengizinkan….(yaeyalah)

Ya sudahlah… (ups)
Selesai kalo sudah waktunya selesai… usahakan aja dulu, My mom said. “walau skripsi menuntut ekstra perhatian, jubah keda’ian mesti tetap dikenakan”, kata seorang ukhti militan.

“ini proses ukh, gak ada hubungannya tuh skripsi sama dakwah. Jangan gara-gara skripsi, dakwah jadi melemah. Dan jangan gara-gara dakwah, skripsi jadi korban… pasti ada solusinya ukhti… apa perlu uni sebutkan dalilnya..???” kata seorang uni.

“tips supaya skripsi cepat kelar…ya DIKERJAKAN dek..” kata seorang kakak.

Baiklah…

Bukankah Allah menciptakan masalah untuk diselesaikan?
Maka selesaikanlah… selesailah…selesailah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s