Kaca Spion


Seorang Instruktur stir mobil tampak begitu serius memperhatikan seorang muridnya yang sedang mengemudikan mobil. Sesekali, sang Instruktur memberikan isyarat agar sang murid fokus ke arah depan.

“Jangan terlalu sering memperhatikan kaca spion,” ucap sang Instruktur ketika sang Murid kerap menoleh ke kiri atau ke kanan, juga ke atas di mana kaca spion mobil berada. Padahal, jalan yang mereka lalui lurus, tanpa belokan. Sang Murid pun kembali fokus. Tapi, hasrat untuk menoleh ke spion lagi-lagi secara spontan muncul. Dan saat itu pula, sang Instruktur kembali mengingatkan.

Bagi sang Murid, menoleh ke arah spion seperti perpaduan antara rasa ingin tahu terhadap kendaraan yang berada di belakang atau sampingnya, dengan rasa khawatir kalau-kalau ada kendaraan lain yang akan menabraknya.

“Muridku, gunakan spion hanya untuk berbelok atau pindah jalur. Karena spion hanya pelengkap, bukan yang utama. Terlalu sibuk dengan spion bisa membuat kita lalai dan selalu was was,” ucap sang Instruktur sambil terus memperhatikan sang Murid yang mulai tenang memperhatikan arah depan.Sang Murid pun mengangguk pelan.

***

Melalui jalan hidup kadang tak ubahnya seperti mengendarai kendaraan seperti mobil atau motor. Dengan kendaraan itulah, tujuan hidup akan kita raih dengan baik. Pada kendaraan itu, setidaknya ada tiga titik yang bisa menjadi perhatian kita yang disimbolkan dengan sebuah kaca spion: depan yang menjadi fokus utama, kiri, kanan, dan juga belakang.

Pandangan arah depan adalah tujuan utama kita hidup yaitu ibadah dan akhirat. Sementara, pandangan arah kiri, kanan, dan belakang adalah tawaran aksesoris hidup yang diperlihatkan keindahan duniawi.

Terkadang, tidak sedikit dari kita yang lebih sibuk untuk memperhatikan spion kiri, kanan, atau belakang. Sehingga melupakan fokus di arah depan.Seperti dikatakan sang instruktur stir mobil, “Gunakan spion hanya sekedarnya!” Fokuslah ke arah depan, dan jangan tunggu sampai kendaraan hidup ini menabrak atau bahkan terguling ke jurang.

 

Sumber: http://www.eramuslim.com

Iklan

Ketika Kita Tak Bertumbuh Sama..


 

Meski dalam satu tempaan. Meski dalam satu halaqoh, Meski dalam satu suasana tarbiyah. Murabbi kita sama, atau mungkin murabbimu jauh lebih tinggi kualitasnya dari murabbi saya, tetap akan melahirkan kualitas yang berbeda. Tidak semua kita bertumbuh dengan sama meski dalam bimbingan yang sama. Apa salahnya? Di mana kenanya?

Dalam buku Iman dan Mahabatullah Ustadz Cahyadi Takariawan mencontohkannya dengan indah soal ini.

“Taruhlah kita menanam sebuah tunas pohon di dua tempat. Jenis pohonnya sama, pemberiaan pupuknya sama, kedalaman cangkulnya sama dan kualitas tunasnya juga sama. Namun ternyata kedua tunas itu tumbuh secara berbeda. Pohon yang satu begitu cepat tumbuh dan segera berdaun rimbun serta berbuah lebat, sedangkan pohon yang lainnya tumbuh juga tetapi begitu lambat, daunnya tidak begitu rimbun dan buahnya pun hanya muncul satu dua. Mengapa bisa terjadi? Karena kualitas tanahnya memang berbeda. Tanah yang satu subur hingga mudah menumbuhkan dan menyuburkan tanaman, sedangkan yang lain gersang hingga tidak menumbuhkannya dengan baik.”

Begitupun hati kita. suasana tarbiyah yang sama belum tentu melahirkan kader yang sama kualitasnya. Tergantung bagaimana hatinya. Hati yang subur dan baik dapat menerima nasehat dengan baik dan melahirkan amal shaleh, sementara hati yang gersang sulit menumbuhkan amal shaleh, seperti masuk dari telinga kanan lalu keluar ke telinga kiri. Bahkan ada yang bandel kayak Bani Israel.

Agar kita bisa bertumbuh secara bersama, bisa menerima nasehat dengan baik, lalu melahirkan amal shaleh dengan baik juga, maka kita harus memperbaiki hati. membeningkannya dari noda dan kotoran hitam dosa kita sehari hari. Ibarat tanah yang subur yang bisa menumbuhkan beragam tanaman.

“Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ini terdapat segumpal darah. Apabila segumpal darah itu baik, maka baik pula seluruh anggota tubuhnya. Dan apabila segumpal darah itu buruk, maka buruk pula seluruh anggota tubuhnya. Segumpal darah yang aku maksudkan adalah hati.” (HR. Al-Bukhari)

Jika hati kita masih bernoda, tentu ini akan menyulitkan kita dalam menerima nasehat, hati semakin sempit dan membuat pikiran kita juga ikutan sempit dan pastinya akan menghambat kita dalam melakukan amal shaleh. Jangan sampai hati kita menjadi laksana tanah yang gersang, yang bahkan sampai tidak bisa menumbuhkan tanaman seperti padang pasir yang tandus.

Semoga Allah menganugerahkan kepada kita hati yang selamat (qalbun salim) karena Allah hanya menerima hati yang selamat,

“…(yaitu) pada hari di mana tidaklah bermanfaat harta dan anak-anak, kecuali orang-orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.” (Asy-Syu’ara: 88-89)

Mari selalu membeningkan hati, agar cahaya ilahi dapat menyinari hati..

2011 telah berlalu..


Suka dan duka, manis dan pahit, tawa dan tangis, warna warni kehidupan 2011 telah berlalu. 365 hari telah kita lewati, tanpa sadar nafas demi nafas yang merupakan nikmat terbesar dariNya telah kita rasakan. Tak terucap bagaimana semuanya itu harus kita bayar. Kita hanya menikmatinya, atau kita harus membayarnya dengan mewujudkan semua mimpi dan harapan?!

Sepenggal kata-kata di atas menurut ku mungkin adalah sebuah renungan diri. 2011 telah berlalusebagaimana air yang mengalir, sebagaimana roda waktu yang terus berjalan tanpa mengenal kompromi, sebagaimana perjalanan waktu yang belum kita ketahui sampai mana ujungnya

Situasi dan keadaan telah jauh berubah, dimana aku tak lagi harus menikmati keindahan seperti yang aku idam-idamkan bersama kawan-kawan ketika masih ada di Batam  . 

kadang masih terasa bagai mimpi, ketika saya bangun tidur, tak saya lihat di samping adalah si Yuni. adek tingkat yang layak nya ku anggap sebagai adek ku sendiri.  suasana asrama yang 4 tahun belakangan ini jadi suana kehidupan ku berubah di tahun 2012. dimana aku telah kembali menjalani hidup ku di jambi. kota kelahiran ku hingga aku SMA. ntahlah bayang2 suasan batam selalu membuat ku Rindu, akan hadirnya sosok-sosk yang luar biasa yang mengantarkan aku seperti ini. mulai dari  lingkungan ikhwah yang luar biasa, dosen-dosen ku di kampus, teman-teman dan adek-adek di asrama hingga warung Tekwan langganan ku 🙂 .

ah… kadang aku terlalu terbawa suasana, dengan membuka file-file photo  sewaktu masih di batam sering pipi ku di basahai butiran-butiran bening yang hangat, kala memandang senyum-senyum mereka di poto. sunggu ukhuwah di batam membuat ku selalu merindukan wajah-wajah itu. wajaha-wajah yang selalu mengiringi langkah hidup ku selama 4 tahun menapaki jalan kehidupan.

kini di 2012…. yang terlihat adalah hamparan mimpi- mimpi yang harus aku wujudkan, karir yang harus aku kembangkan. dan target kehidupan selanjutnya yang harus di capai. tak kulihat lagi  :
– senyum dan gurauan dari adek-adek ku tersayang di asrama serta tatapan manja mereka… obsesi ku pengen punya adek cewek mengantar kan ku pada senyum-senyum manja mereka

-pertemanan antara windy, feny, dahlia, yanda, virna . teman2 seperjuangan, seangkatan yang BETAH di asrama selama 4 tahun, Hingga kata WISUDA memisahkan langkah kami masing-masing.

– candaaan dan wajah keseriusan dalam lingkaran iman bersama aida, delia, bela, salina, wita, desi, fizki…

-sambutan hangat dari mba ilin yang siap siaga membuka pintu rumah nya untuk aku kapan saja mau silaturahmi..

– tante ku yang selalu masakin apa yang aku mau

-om mus yang selalu setia mengantar aku hingga ke pelosok batam

-teman-teman seperjuangan di LDK Forsima, Kammi batam, kegiatan baksos rumah zakat 

yaaaaaap…. 2011 sudah berlalu dengan segudang cerita dan kenangan yang dahsyat. 2012…. Aku siap bersama mu menapaki hidup ini dengan segala keinginan ALLAh yang Sangat Indah untuk skenario Hidup ku 🙂

Cerita inspiratif – Indahnya kebersamaan


Anto adalah salah satu pegawai yang cukup sibuk yang bekerja untuk salah satu perusahaan swasta terkemuka, sehingga seringkali ia pulang kerja hingga larut malam. Suatu ketika Anto pulang kerja, ternyata Budi (anaknya) yang masih kelas 2 SD membukakan pintu untuknya, dan sepertinya Budi memang sengaja menunggu ayahnya tiba di rumah. “Kok kamu belum tidur?”, sapa Anto setelah mencium keningnya. Budi menjawab,“Aku memang sengaja menunggu ayah pulang karena aku ingin bertanya, berapa sih gaji ayah?”. “Lho, kok kamu nanya gaji ayah sih?”, “Nggak, Budi cuma mau tahu aja ayah..”, timpal Budi. Ayahnya pun menjawab, “Kamu hitung sendiri, setiap hari ayah bekerja 10 jam dan dibayar Rp.400.000, dan tiap bulan rata-rata ayah bekerja 25 hari. Hayoo.. jadi berapa gaji ayah dalam 1 bulan?”. Budi langsung bergegas mengambil pensilnya, sementara ayahnya melepas sepatu. Ketika Anto beranjak menuju kamar, Budi berlari mengikutinya.

Kemudian Budi menjawabnya, “Kalo 1 hari ayah dibayar Rp.400.000 untuk 10 jam, berarti 1 jam ayah digaji Rp.40.000 donk?”. “Pinter anak ayah sekarang ya.., sekarang kamu cuci kaki dan tidur ya”, jawab ayahnya. Tetapi, Budi tidak juga beranjak. Sambil memperhatikan ayahnya ganti pakaian, Budi kembali bertanya, “Ayah, boleh pinjam uang 5rb nggak?”. “Sudah, buat apa uang malam-malam begini?! Ayah capek, mau mandi dulu, sekarang kamu tidur!”, jawab ayahnya. Dengan wajah melas Budi menjawab, “Tapi ayah..”, ayahnya pun langsung menghardiknya, “Ayah bilang tidur!!”. Anak kecil itupun langsung berbalik menuju kamarnya.

Usai mandi, Anto menyesali perbuatannya yang telah menghardik anaknya tersebut. Ia pun melihat kondisi anaknya tersebut. Dan ternyata, anak kesayangannya itu belum tidur. Ternyata Budi dilihatnya sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp.15.000 di tangannya.

Sambil berbaring dan mengelus kepala anaknya itu, Anto berkata, “Maafkan ayah ya nak. Buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok kita beli ya. Jangankan minta 5rb, lebih dari itupun ayah kasih”. Budipun menjawab, “Ayah, aku nggak minta uang. Aku cuma mau minjem. Nanti aku kembalikan lagi setelah aku nabung minggu ini”. “Iya iya, tapi buat apa?”, tanya Budi dengan lembut. “Aku nunggu ayah dari jam 8 tadi, aku mau ngajak ayah main ular tangga. Cuma tiga puluh menit saja. Ibu sering bilang, kalau waktu ayah itu sangat berharga. Jadi, aku mau beli waktu ayah. Aku buka tabunganku, ternyata cuma ada Rp.15.000. tapi, karena ayah bilang ayah tiap 1 jam ayah digaji Rp.40.000, jadi setengah jamnya ayah digaji Rp.20.000. Uang tabunganku kurang 5rb, jadi makanya aku mau pinjam uang ayah 5rb”, jawab Budi dengan polos.

Anto pun terdiam, dan dipeluknya anak kecil itu erat-erat.. [the end]

Tulisan diatas saya dapatkan ketika lagi ngotak-ngatik komputer seorang teman saya, sayangnya teman saya itu lupa sumber tulisan tersebut. Menurut saya itu adalah ceritainspiratif, karena fenomena tersebut bisa saja terjadi diantara kita. Apalagi sulitnya kehidupan sekarang ini membuat kita harus bekerja extra keras (meskipun saya belum jadi orang tua, tapi saya bisa membayangkan betapa lelah dan susahnya cari uang), hingga kadang-kadang kita lupa terhadap sesuatu hal, atau orang-orang yang membutuhkan keberadaan kita ditengah-tengah mereka.

Kebersamaan bukanlah apa-apa dibanding dengan segalanya. Namun, kebersamaan tidak dapat di tukar dengan segalanya yang telah kita miliki .

Semoga bagi yang pernah, atau memang sedang mengalami kondisi tersebut (dalam posisi sebagai orang tua) bisa membuka mata lebar-lebar dan segera menyadari bahwa ada orang yang membutuhkan kasih sayangkomunikasi, perhatian dan kebersamaan. Dan jika posisinya sebagai si anak, kalaupun memang memiliki orang tua seperti cerita inspiratif diatas, “Tetaplah berfikir positif”. Karena bagaimanapun orang tua kamu bekerja mati-matian adalah hanya untuk untuk keluarga (termasuk kamu). Tetaplah menjalin komunikasi, kedekatan serta keterbukaan dengan orang tua agar kamu tetap bisa merasa nyaman, serta kamu menganggap bahwa “Keluarga saya adalah keluarga yang terindah!”.

Belajar dari ‘Kearifan segenggam garam’


Dahulu kala, hiduplah seorang lelaki tua yang terkenal sholeh dan bijak. Di suatu pagi yang dingin, datanglah seorang lelaki muda yang sedang di sedang landa masalah. Dengan langkah gontai dan rambut kusut, ia tampak seperti orang yang tak pernah mengenal bahagia. Tanpa menunda waktu, ia mengungkapkan segala keresahannya. Impiannya yang gagal, karir, cinta, dan hidupnya yang tidak pernah berakhir bahagia. Bapak tua yang bijak itu hanya mendengarannya dengan teliti dan seksama. Tanpa berkata apa-apa, ia hanya mengambil segenggam garam dan memasukkannya ke segelas air, lalu mengaduknya dan berkata, “Coba minum ini, dan katakan bagaimana rasanya??”.

Dan pemuda itu pun meminum segelas air yang telah diberikan oleh pak tua. “Ahh.., asin sekali! Pahit pak!!”, jawab pemuda tersebut. Pak tua itu hanya tersenyum, lalu mengajak anak muda tersebut berjalan ke tepi telaga yang ada dalam hutan dekat tempat tinggalnya.

Setelah menempuh perjalanan yang tidak terlalu jauh, akhirnya sampailah mereka di tepi telaga yang tenang. Masih dengan mata yang tenang dan penuh dengan cinta, orang tua yang bijak itu menaburkan segenggam garam ke dalam telaga. Dengan sepotong kayu, diaduknya air telaga yang membuat gelombang dan riak kecil.

Setelah air telaga tenang, ia pun berkata, “Anak muda, coba kamu cicipi air telaga tersebut, dan minumlah”. Setelah anak muda tersebut meneguk air telaga, pak tua bertanya lagi, “Bagaimana rasanya??”. “Mm.., ini baru segar sekali rasa airnya Pak tua”, jawab anak muda tersebut.

“Dan apakah kamu masih merasakan garam di dalam air tersebut?”, tanya pak tua. “Tidak, sepertinya tidak, sedikitpun aku tidak merasakan asin!”.

Mendengar hal itu, dengan bijak Pak tua menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di tepi telaga dan berkata, “Anak muda, pahitnya kehidupan seumpama segenggam garam. Tidak lebih dan tidak kurang! Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama. Tapi, kepahitan yang kita rasakan akan sangat tergantung dari wadah atau tempat yang kita miliki”.

Kepahitan itu selalu berasal dari bagaimana kita meletakkan segalanya. Dan itu tergantung pada hati kita. Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya satu hal yang boleh kita lakukan. Lapangkanlah dada untuk menerima semuanya, luaskan hati untuk menampung sebuah kepahitan tersebut, luaskan wadah pergaulan supaya kita mempunyai pandangan hidup yang luas. Maka, kita akan banyak belajar dari keleluasaan tersebut. Hati adalah wadah itu, perasaan adalah tempat itu, kamu adalah tempat menampung segalanya. Jadi jangan jadikan hati seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam semua kepahitan itu, dan mengubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.

Keduanya lalu beranjak pulang, mereka sama-sama belajar dari hati. Dan Pak tua si orang bijak tersebut, kembali menyimpan segenggam garam, untuk anak muda yang lain yang sering datang padanya yang membawa keresahan jiwa.

Catatan perjalanan kehidupan


Suatu ketika, ada sepasang pengembara yang sedang melakukan perjalanan dengan melintasi padang pasir yang luas. Sepanjang mata memandang, hanya tampak garis pasir yang terbentang. Dan tapak-tapak kaki yang ada di belakang mereka, membentuk jejak-jejak yang tak putus. Susunannya meliuk-liuk, tampak seperti garis kurva yang berujung di setiap langkah yang mereka lalui. Sesekali debu pasir menerpa tubuh, dan membuat mereka berjalan merunduk agar terhindar dari angin yang membawa debu itu.

Tiba-tiba ada badai besar yang datang, hembusannya sangat kuat. Membuat tubuh mereka bergoyang, merekapun saling berpegangan, agar dapat bertahan dari badai itu. Namun ada musibah lainnya yang menimpa mereka. Yaitu bekal minuman mereka terbawa oleh badai, dan di dalam fikiran para pengembara tadi, mereka akan mati kehausan di tengah padang pasir yang luas.

Akhirnya, keduanyapun  duduk termenung, menyesalkan hilangnya bekal mereka. Lalu seorang dari mereka, tampak menulis sesuatu di atas pasir dengan ujung jarinya. Goresan yang ditulisnya adalah, “Kami sedih, kami telah kehilangan bekal minuman kami di tempat ini”.

Melihat tulisan itu, pengembara satunya lagi tampak bingung, namun tetap membereskan perlengkapannya. Tak lama kemudian, setelah badai benar-benar pergi, keduanya pun melanjutkan perjalanan.

Setelah lama menyusuri padang pasir, mereka melihat sebuah oasis dari kejauhan.”Wah kita selamat kawan! Lihat, ada air disana! Mudah-mudahan ini bukan fatamorgana”, seru seorang pengembara. Setelah berlari menuju ke arah air itu, ternyata memang ada sebuah kolam kecil dengan air yang cukup banyak. Keduanyapun segera minum sepuas-puasnya dan mengambil sisanya untuk bekal perjalanan.

Sambil beristirahat, seorang dari pengembara itu mulai menulis sesuatu. Pisau yang digenggamnya digunakan untuk memahat di atas sebuah batu, yang bertuliskan, “Kami sangat bahagia saat ini, kami dapat melanjutkan perjalanan, karena menemukan tempat ini”.

Merasa bingung dengan tingkah sahabatnya itu, salah satu dari seorang pengembara itupun bertanya kepada temannya, “Hei, mengapa kini engkau menulis di atas batu, sementara tadi engkau hanya menulis di atas pasir saat kita kehilangan bekal minuman?!”.

Mendengar pertanyaan sahabatnya, sang pengembarapun menjawab,

“Teman, saat kita mendapatkan kesusahan, tulislah semuanya itu di atas pasir. Biarkan angin keikhlasan akan membawanya jauh dari ingatan. Biarkan catatan itu akan hilang bersama menyebarnya pasir ketulusan. Biarkan semuanya hilang, lenyap, dan pupus. Namun ingatlah, saat kita mendapatkan kebahagiaan, pahatlah kemuliaan itu di atas batu. Agar tetap terkenang, dan membuat kita bahagia. Torehlah kenangan kesenangan itu dalam kerasnya batu, agar tidak ada sesuatu yang dapat menghapusnya. Biarkan catatan kebahagiaan itu tetap ada, biarkan semuanya tersimpan”.

Akhirnya, kedua pengembara itupun tersenyum. Bekal minuman mereka telah cukup, dan merekapun kembali meneruskan perjalanan mereka.