Etika Persahabatan


Sahabat adalah pengingat.
Pengingat untuk tetap tegar ketika diri menghadapi ujian.

Pengingat untuk istiqamah ketika kebaikan mulai diragukan.
Pengingat untuk rela berbagi kehidupan.
Karena sampai kapanpun, sahabat akan saling membutuhkan.
Untuk saling mengingatkan.

Ketika di sekolah dulu Ratih tak pernah berpikir, bahwa sahabat yang menemani melewati masa-masa suka duka bersama, suatu saat akan berubah menjauh dan enggan mendengar curahan hati satu sama lain. Dan pagi ini, Ratih sudah sampai di kantor dengan pikiran yang bercampur. Alika, sahabat nya mulai SMA hingga 2 tahun lalu takdir mempertemukan mereka kembali di tempat kerja, tiba-tiba berubah sikap.

Awalnya Ratih senang bertemu Alika di basement ketika siang itu Ratih akan makan siang di kantin, lalu di kagetkan dengan sapaan Alika yang ternyata baru 1 minggu ditempatkan di perusahaan ia bekerja di gedung yang sama. Kejutan bagi Ratih yang baru saja pulang dari perjalanan dinas ke luar kota. Semangat Ratih bekerja mulai membaik, karena ada Alika tempat ia berbagi apa saja mulai dari permasalahan di tempat kerja hingga masalah keluarga. Begitu juga bagi Alika, tak jarang ia meminta pendapat Ratih tentang lingkungan di kantor barunya, bahkan masalah ekonomi yang sedang ia hadapi bersama suaminya pun ia ceritakan pada Ratih.

Sampai suatu saat Alika bercerita pada Ratih kalau ia bertemu teman lamanya ketika kuliah, dan dijelaskan pula bahwa perhatian teman lelakinya yang baru saja menduda itu melebihi perhatian suaminya pada Alika. Spontan Ratih mengingatkan Alika untuk berhati-hati pada teman lelakinya, karena kedekatan mereka bisa menimbulkan masalah baru yang memperuncing masalah yang sedang ia dihadapi dengan suaminya. Belum lagi Alika sudah di karuniai 3 buah hati yang masih memerlukan fokus Alika untuk membagi perhatian tumbuh kembang mereka. Namun Alika hanya memberi alasan pada Ratih, jika teman lelakinya hanya tempat berdiskusi saja karena teman lama yang sudah dekat sejak awal kuliah.

Hingga siang itu di kantin tempat ia biasa makan siang bersama Alika, ia bercerita jika suaminya memasukkan gugatan cerai ke pengadilan agama. Ratih kaget, karena sebelumnya ia bercerita salah satu tetua dari keluarga besar mereka memediasi agar rumah tangga Alika utuh. Namun kehendak berkata lain, permasalahan mereka sudah sampai di pengadilan agama.

Belum lagi masalah dengan suaminya selesai, Alika malah sudah menjalin hubungan yang tak biasa dengan teman lelakinya yang dulu pernah ia ceritakan. Dan yang sangat disayangkan Ratih kedekatan mereka terlihat hingga di tempat kerja. Dimana Alika pulang dan pergi ke kantor diantar oleh teman lelaki tersebut. Ratih pernah mencoba mengajak berbicara Alika dari hati ke hati perihal sikap nya di kantor yang sudah mengundang fitnah, tapi yang ada Alika malah menjauh & menjaga jarak dengan Ratih.

Namun Ratih tetap tak bosan ada disamping Alika, sekedar memberi semangat ketika sidang cerainya berlangsung atau ketika teman-teman kantor yang lain menjauhinya. Bagi Ratih, selama masih ada waktu dan sela untuk mengajak Alika berbuat baik, ia akan lakukan. Meskipun hal ini sulit dan membutuhkan ketegaran berlipat ketika Alika mengacuhkannya. Apapun, Ratih akan mendoakan Alika karena hal itulah yang paling mudah ia lakukan agar Allah mengetuk hati Alika.

* * *

Sahabat adalah cermin

Menjadi cermin yang baik tentu tak mudah. Diperlukan ilmu dan iman, agar mudah bagi orang lain untuk bercermin dengan ‘baik’, atau cermin yang mudah menyerap sinar kebaikan dari cermin yang lain dan memancarkan cahaya kebaikannya. Dibutuhkan pula ke istiqamahan dalam menuntut ilmu dan mengelola iman agar diri pantas untuk menjadi cermin bagi sesama muslimah.

Menjadi cermin yang baik tentu saja dipengaruhi oleh banyak hal. Misalnya amanah, yang artinya jujur jika diberi kepercayaan dan tanggung jawab, tidak mengumbar amanah yang bersifat privacy saudara seimannya, atau sesamanya yang artinya meskipun berbeda keyakinan, ada hak mereka yang amanahnya harus kita simpan.

Hal yang lain yaitu rela berbagi, berbagi apa saja yang mampu untuk di bagi, misalnya ketika sahabatnya membutuhkan bantuan. Bisa berbagi waktu menemaninya ketika sedang bersedih, meskipun sahabat tersebut jauh, kita masih bisa menemaninya, melalui telepon atau media sosial bisa menjadi alternatif solusi untuk mendekatkan kita dengan sahabat yang sedang membutuhkan keberadaan kita sebagai tempat mencurahkan hati, tempat meminta pendapat untuk berpikir positif dalam menyeleseikan permasalahan yang sedang dihadapi, atau sekedar menyediakan telinga untuk rela mendengar. Atau mungkin dengan berbagi materi. Kalau yang ini, bukankah Allah memerintahkan kita bersedekah baik di saat lapang maupun sempit.

Sahabat saling menguatkan.

“Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seperti bangunan dimana bagiannya menguatkan bagian lainnya.” (HR, Muslim. No 4684)

Rasulullah SAW lebih menyukai umatnya yang kuat daripada yang lemah. Kuat jasmaniah maupun ruhiyah. Bahwa ketika kita kuat, kita akan semakin mudah menguatkan sesama disaat yang lain lemah.

Kebalikan kuat adalah lemah, bagaimana kita mampu menguatkan yang lain, jika kita sendiri lemah. Maka penting bagi muslimah untuk menguatkan iman, mengakarkan ilmu dalam jiwa, hati dan pikiran. Agar yang kita lakukan membuat diri kita dan sesama semakin kuat, dan tegar dalam menghadapi permasalahan sehari-hari. Kewajiban bersama jika sesama mengalami kesulitan, kita membantu mempermudah agar kesulitan cepat terselesaikan. Apalagi jika yang mengalami kesulitan adalah saudara seiman.

Masih ingat bencana yang menimpa negeri kita beberapa tahun terakhir, mulai dari tsunami Aceh dan bagian daerah Jawa Barat, gempa di Padang sampai lahar Merapi atau penderitaan yang dialami saudara kita di Gaza, atau di bagian daerah yang mungkin luput dari perhatian kita. Hati rasanya teriris jika kita hanya mampu menyaksikan penderitaan mereka lewat tayangan berita di televisi. Padahal meskipun jauh dari mereka, kita bisa membantu meringankan beban mereka. Karena dekat ataupun jauh, kita harus saling menguatkan, baik melalui bantuan moriil, materiil hingga doa tak putus untuk mereka. Nah, apalagi jika yang mengalami musibah saudara atau tetangga di lingkungan sekitar kita.

Dalam masalah etika di lingkup sosial, menguatkan iman sangat berperan penting. Sehingga tak lupa adab menjalankan norma-norma berkehidupan sosial, dan tetap saling mengingatkan agar persaudaraan tetap utuh. Dan kelola diri agar berbesar hati jika saudara, teman atau sahabat mengingatkan dalam kebaikan.

Maka menjadi hamba Allah yang kuat sangatlah penting, agar diri lebih bermanfaat untuk umat.

Dan menjadi tugas bersama untuk menguatkan ikatan ukhuwah agar semakin erat. Karena hanya dengan bersama, kebaikan akan tersampaikan.

Sahabat saling “menjaga”.

Ada sepotong daging tak bertulang yang dapat memutus tali silaturrahim, menghancurkan rasa kepercayaan dan meruntuhkan kejujuran. Daging tersebut bernama lidah. Ya, lidah tempat bermuaranya lisan. Terkadang lisan yang tak bertulang ini mudah terpeleset, apalagi jika lingkungan kita sarat dengan perempuan yang berhobi mojok di suatu sudut dan membahas masalah orang lain, atau malah menyebar isu dan berita bohong. Lalu di posisi mana sebaiknya kita berada? Bagaimana jika mereka membicarakan salah seorang teman dekat kita?.

Di posisi mana pun kita berada sangat baik, asal kita tidak menambah suasana ber ghibah semakin hangat, berposisilah senetral mungkin. Akan lebih baik jika membawa pembicaraan tak lagi mengarah pada topik membicarakan si A atau si B serta berprasangka yang kurang baik terhadap siapa yang sedang dibicarakan. Dan jangan lupakan untuk ber tabayyun, mengklarifikasi jika berita tersebut mengarah pada ketidakbenaran. Harus menyadari pula bahwa setiap diri kita wajib saling menjaga aib saudara seiman. Tugas kita adalah mengingatkan pula kepada sahabat yang sedang menjadi trending topic pembicaraan mereka. Saling instropeksi diri, mengapa isu tersebut mudah berkembang. Bukankah tak ada asap, jika tak ada api.

Jangan menjauh jika sahabat sedang berubah atau ingin sendiri, tetap temani meskipun dari jauh. Tetap doakan sahabat, karena sampai kapanpun kita akan saling membutuhkan seorang sahabat.

fimadani.com

Sebatang Bambu


Sebatang bambu yang indah tumbuh di halaman rumah seorang petani. Batang bambu ini tumbuh tinggi menjulang di antara batang-batang bambu lainnya. Suatu hari datanglah sang petani yang Dia berkata kepada batang bambu,” Wahai bambu, maukah engkau kupakai untuk menjadi pipa saluran air yg sangat berguna untuk mengairi sawahku?”

Batang bambu menjawabnya, “Oh tentu aku mau bila dapat berguna bagi engkau,Tuan. Tapi ceritakan apa yang akan kau lakukan untuk membuatku menjadi pipa saluran air itu.”

Sang petani menjawab, “Pertama, aku akan menebangmu untuk memisahkan engkau dari rumpunmu yang indah itu. Lalu aku akan membuang cabang-cabangmu yang dapat melukai orang yang memegangmu. Setelah itu aku akan membelah-belah engkau sesuai dengan keperluanku. Terakhir aku akan membuang sekat-sekat yang ada di dalam batangmu, supaya air dapat mengalir dengan lancar. Apabila aku sudah selesai dengan pekerjaanku, engkau akan menjadi pipa yang akan mengalirkan air untuk mengairi sawah sehingga padi yang ditanam dapat tumbuh dengan subur.”

Mendengar hal ini, batang bambu lama terdiam….., kemudian dia berkata kpd petani, “Tuan, tentu aku akan merasa sangat sakit ketika engkau menebangku. Juga pasti akan sakit ketika engkau membuang cabang-cabangku, bahkan lebih sakit lagi ketika engkau membelah-belah batangku yang indah ini dan pasti tak tertahankan ketika engkau mengorek-ngorek bagian dalam tubuhku untuk membuang sekat-sekat penghalang itu. Apakah aku akan kuat melalui semua proses itu, Tuan?”

Petani menjawab, ” Wahai bambu, engkau pasti kuat melalui semua ini karena aku memilihmu justru karena engkau yang paling kuat dari semua batang pada rumpun ini. Jadi tenanglah.”

Akhirnya batang bambu itu menyerah, “Baiklah, Tuan. Aku ingin sekali berguna ketimbang batang bambu yg lain. Inilah aku, tebanglah aku, perbuatlah sesuai dengan yang kau kehendaki.”

Setelah petani selesai dengan pekerjaannya, batang bambu indah yang dulu hanya menjadi penghias halaman rumah petani, kini telah berubah menjadi pipa saluran air yang mengairi sawah sehingga padi dapat tumbuh dengan subur dan berbuah banyak.

Pernahkah kita berpikir bahwa dengan tanggung jawab dan persoalan yg sarat, mungkin Tuhan sedang memproses kita untuk menjadi indah di hadapan-Nya? Sama seperti batang bambu itu, kita sedang ditempa.

Tapi jangan kuatir, kita pasti kuat karena Tuhan tak akan memberikan beban yang tak mampu kita pikul. Jadi maukah kita berserah pada kehendak Tuhan, membiarkan Dia bebas berkarya di dalam diri kita untuk menjadikan kita alat yang berguna bagi-Nya?

Seperti batang bambu itu, mari kita berkata, ” Inilah aku, Tuhan…perbuatlah sesuai dengan yang Kau kehendaki.”

Sugesti Kesembuhan


Bismillahirrahmanirrahim..

.

80 % SUGESTI kesembuhan itu ada pada motivasi hati dan pikiran kita. So kalau begitu berikan nasehat positiv,support membangun, dorongan kekuatan untuk dapat sembuh seperti sedia kala, ajakan untuk bangkit kepada saudara-saudara kita yang sedang sakit dan belum sembuh :
” sesungguhnya Allah senantiasa akan menuruti persangkaan hambaNYA ” (hadits qudsi)

SUNNAH (SOHIH) YANG DIAJAR BAGINDA RASULULLAH SAW APABILA MENGALAMI KESAKITAN..

Bacaan apabila tubuh merasa sakit;
“Letak tangan di tempat sakit kemudian baca: بِسْمِ اللهِ.
“Bismillah” tiga kali, dan baca tujuh kali:
أَعُوْذُ بِاللهِ وَقُدْرَتِهِ، مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وأُحَاذِرُ
“Aku berlindung dengan Allah dan kekuasaanNya dari kejahatan yang aku dapati dan aku takuti” [HR: Muslim].

((أَذْهِبْ الْبَاسَ رَبَّ النَّاسِ، اشْفِ وَأَنْتَ الشَّافِي، لا شِفَاءَ إِلا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لا يُغَادِرُ سَقَمًا))
“Ya Allah! Hilangkanlah penyakitnya, wahai Tuhan bagi manusia, sembuhkanlah, Engkaulah yang menyembuhkan, tidak ada kesembuhan melainkan kesembuhan dari-Mu jua, sesuatu kesembuhan yang tidak meninggalkan sebarang penyakit”. [HR Bukhari]

 Gambar

Hidup; Belajar dan Mengajar


Hidup adalah BELAJAR. 
Belajar bersyukur meski tak cukup. Belajar ikhlas meski tak rela. Belajar taat meski berat. Belajar memahami meski tak sehati. Belajar bersabar meski terbebani. Belajar setia meski tergoda. Belajar dan terus belajar. Meski keyakinan setegar karang, karena menjadi kodrat bahwa hati seperti air laut; bergelombang, pasang surut dan sering terbawa arus.

 

 
Dan lebih dari itu. Hidup juga adalah MENGAJAR. Tak lelah mewarnai. Setia menerangi. 
Ada untuk menginspirasi.
 
Gambar